03
Okt
12

Mengapa para Millenial lebih menyukai kerja part time dari pada full time?

Seiring perkembangan jaman , pengangguran semakin banyak dan dalam jangka waktu yang cukup panjang , hampir mendekati angka tertinggi sepanjang sejarah , jadi tidak mengherankan apa bila para pekerja tersebut pada beralih menjadi agen freelance (harian lepas ).

Akan tetapi pekerja yang lebih muda – yang secara khusus disebut sebagai bagian dari Millennials – lebih banyak merekrut pekerja lepas (freelance ) yang lebih agresif dari apa bila dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua , berdasarkan data terakhir (wicak).

Kenyataannya , Lebih banyak perguruan tinggi meluluskan sarjananya untuk bekerja paruh waktu , para pekerja paruh waktu dengan prenghasilan hampir setara dengan pekerja full time .”kami menyebutnya permalance “, kata  Judith Watson, salah satu anggota assosiasi dekan lulusan  School of Journalism at the City dari University of New York (wicak).

Kata Watson, dia melihat secara sporadis para parmalancer diatara murid-murid beberapa tahun belakangan ini . “Tren yang ada cukup mudah mencerminkan apa yang terjadi dalam berbagai bidang bisnis”, tambah dia.Data pengangguran nasional merosot hingga 8.1 % pada bulan Agustus (wicak).

Lewatlah masanya ketika para pekerja Freelance menjadi bagian sporadis dan cenderung sebagai pekerjaan sampingan diantara pekerjaan permanen .Menurut data terakhir , para pekerja usia dua puluhan-atau usia pelajar lebih suka menjadi pekerja lepas , atau sebagai pekerja lepas . Mereka telah menciptakan karir dan mencoba keberuntungan diluar hampir 500 perusahaan tempat mereka bekerja .Dan sebagian besar pekerja Amerika adalah pekerja lepas – bukan hanya altit yang bisa memiliki penghasilan tinggi (baca lebih lanjut :  Free Agents and How They Mange Their Money ).

Berdasarkan survey nasional yang dilakukan pada lebih dari 3000 profesional independen yang dirilis oleh Elance , 47.3 % teridentifikasi sebagai millenials – dan terlahir pada tahun 1981 dan seterusnya . Para freelance bekerja sebagai sumber pendapatan dari kelompok , kata Fabio Rosati, chief executive dari  Elance,sebuah platform on line yang menghubungkan para freelance dengan dunia bisnis (wicak).

“Untuk generasi yang lebih muda , Freelance telah bergerak kian cepat dari sesuatu yang dilakukan masyarakat sebagai pekerjaan sampingan , menjadi pilihan utama .para Millennials telah mengubah menjadi freelance bergerak lebih cepat dan dinamis “, kata Rosati .

Menurut sebuah study juga menemukan 26 % dari para Millenials yang telah disurvey telah memiliki pekerjaan fulltime – serta pekerjaan freelance untuk tambahan penghasilan . Para pekerja ini ingin menambah penghasilan mereka  untuk menunjang perubahan karir serta nasib , kemungkinan akan bergerak disektor yang berbeda , kata Rosati(wicak).

Para Millennials yang telah disurvey , yang telah menjadi pekerja freelance , juga berpendidikan tinggi , dengan 77% berpendidikan sarjana bahkan lebih tinggi .Dan 27 % diantaranya berpredikat Master , berdasarkan tingkat pendidikan mereka (wicak).

“Anda harus meningkatkan karir diri , dan ini benar-benar merupakan bentuk managemen karir , yang menjadi bagian dari apa yang pernah kami ajarkan “, kata Watson .”Anda adalah seorang pengusaha yang perlu peningkatan bukan stagnant “.

(baca lebih lanjut : The Role Of Fate In Your Job Search)

Bukan hanya sekedar Millennial Freelance

Berdasarkan study yang dilakukan  Elance , 37.8 % dari freelance yang telah disurvey mencatatkan diri mereka sebagai bagian dari generasi X , mereka yang lahir antara tahun 1965 dan 1980. dan sekitar 14,5 % dari Baby Boomers , yang lahir antara 1940dan 1964, yang mengatakan mereka juga mengejar karir dengan bekerja  di dunia freelance (wicak).

Diantara freelancer yang telah di survey , sekitar 57 % berkata bahwa penghasilan mereka telah mengalami peningkatan selama tahun 2012 , menurut survey tersebut. Selain itu , 19 % mengatakan bahwa penghasilan mereka telah meningkat dua kali lipat melalui kerja freelance dibanding tahun lalu sebelum bekerja sampingan (wicak).

Para partisipan Survey juga menunjukkan pekerjaan freelance diperkirakan akan berkembang cukup pesat selama tahun 2013:

1. Web programmer

2. Mobile appicator

3. Graphic dan web designer

4. Online marketing

5. penulis Content (artikel)

Implikasi : Seiring semakin banyaknya PHK serta regulasi pemerintah yang sama sekali tidak berpihak pada pekerja karena lebih memihak pada para kapitalis dan investor. Sektor jasa lebih bisa bertahan dan para freelancer terbukti bisa bertahan dalam kondisi ekonomi apapun tanpa menunggu kebijakan pemerintah , seandainya semua orang beralih menjadi permalance  pasti para pengusaha akan kerepotan mencari tenaga kerja dan tidak akan  seenaknya membayar upah murah apalagi jasa outsourcing sama sekali tidak akan dibutuhkan dalam hal ini (selama masih bekerja pada orang lain maka nasip kita seakan dititipkan pada orang lain tersebut, disinilah freelance hadir sebagai solusi )(wicak).

sumber :http://sobatsepeda.com/2012/10/03/mengapa-para-millenial-lebih-menyukai-kerja-part-time-dari-pada-full-time/

Iklan

0 Responses to “Mengapa para Millenial lebih menyukai kerja part time dari pada full time?”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: